Tangani Banjir, Pemprov DKI Harus Libatkan Berbagai Instansi Terkait

banjir,jakarta

jakarta - ilustrasi

       

Hujan yang mengguyur wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada Sabtu (27/2) hingga minggu (28/2) malam membuat sejumlah wilayah DKI Jakarta tergenang. Intensitas hujan yang tinggi dan buruknya drainase serta infrastruktur, seakan menjadi alasan soal adanya genangan air di beberapa wilayah ibukota. Berbagai kalangan menilai, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI harus radikal dalam menangani persoalan tersebut.

Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta, Teguh Hendrawan, mengatakan, puluhan genangan dan banjir yang terjadi Minggu (28/2) itu akibat intensitas hujan yang begitu deras dan berkepanjangan. Menurutnya, hal itu merupakan hal yang positif agar DKI dapat bekerja lebih maksimal untuk mengatasi genangan atau banjir di wilayahnya.

"Genangan yang terjadi karena intensitas hujan yang tinggi itu wajar. Apalagi drainase kita belum semua terhubung. Infrastruktur jalan juga masih banyak yang cekung. Habis musim hujan ini kita kebut," kata Teguh saat dihubungi, Senin (29/2).

Teguh menjelaskan, untuk mengatasi masalah genangan dalam waktu dekat ini, pihaknya telah mengerahkan seluruh petugasnya untuk membantu Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di wilayah dalam membersihkan saluran. Sekaligus, untuk menginventarisir apa penyebab lain terjadinya genangan. Termasuk penempatan pompa mobile di lokasi-lokasi genangan.

Sebab, lanjut Teguh, banyak genangan yang terjadi dalam kondisi yang tidak wajar. Seperti di kawasan Sudirman-Thamrin yang terdapat banyak bekas gulungan kabel. Namun, jelas dia, untuk wiilayah Jalan Panjang, Kebon Jeruk dan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat (Jakbar) yang mengalami banyak genangan itu akibat belum rampungnya normalisasi kali Grogol, Pesanggrahan dan Angke.

"Banyak sebab yang harus dikerjakan. Bangunan-bangunan permanen yang memperkecil saluran semuanya harus dibongkar. Saluran dikeruk, sheetfield juga harus dibangun," ungkapnya.

Terkait masih adanya pompa yang mati di pintu air Pendongkelan, Cengkareng, Jakbar, Teguh mengakuinya meski sebelumnya tengah menyatakan bila 453 pompa dalam keadaan siap menghadapi banjir.

"Ya cuma satu yang mati di Pendongkelan. Itu karena sudah cukup umur dan harus diganti. Tapi sudah kita tempatkan pompa mobile disana. Pokoknya musim hujan beres kita jalan, pejabat yang fiktif kita pecat. Sudah ada 40 pejabat yang saya staf-kan sejak saya menjabat Kepala Dinas tiga bulan lalu," paparnya.

Sementara, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Denny Wahyu menuturkan, puluhan genangan yang terjadi Minggu (28/2) itu disebabkan oleh ketinggian air dari Kali Angke yang masuk siaga dua dan Kali Pesanggrahan yang masuk siaga tiga.

"Banyak genangan dan banjir di Jakarta Selatan dan Barat. Itu dikarenakan pertemuan aliran Kali Pesanggrahan ke Angke yang sudah masuk siaga dua. Beruntung rob sudah siaga empat. Karena itu pengaruh juga," pungkasnya.

Untuk wilayah yang mengalami banjir, lanjut Denny, pihaknya sudah mengirim bantuan baik tenda, makanan dan sebagainya. Khusunya untuk wilayah Rawa Buaya dan Duri Kosambi, Cengkareng, Jakbar. Kesemuanya dititipkan di kantor Wali Kota Jakbar.

"Nantinya Dinas Sosial dan Pusdalops Jakarta Barat akan mendistribusikannya. Masyarakat segera menghubungi 164 untuk evaluasi dan bantuan lainya," tegasnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusdalops BPBD DKI Jakarta, Minggu (28/2), berikut titik genangan yang di-update terakhir sekitar pukul 06.00 WIB.

1. Pkl 04.00 WIB, banjir di Kampung Pedongkelan, RT 011/RW 013, Kel. Cengkareng, Kec. Cengkareng, Jakarta Barat, Ketinggian Air: 10–20 cm.

2. Pkl 04.33 WIB, genangan di Jalan Cendrawasih 7, Cengkareng, Jakarta Barat: +/- 10 cm.

3. Pkl 04.34 WIB, genangan di Jalan Nuri 4, Cengkareng, Jakarta Barat: +/- 10 cm.

4. Pkl 02.00 WIB, banjir di Perum Taman Cosmos Blok G, H, L, M, RT 01/RW 02, Kel. Kedoya Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ketinggian Air: +/- 40 cm. Penyebab: Imbas meluapnya, Air Kali Sekertaris, akibat pompa kurang berfungsi.

5. Pkl 05.37 WIB, genangan di perempatan Joglo Arah Pos Pengumben, Jakarta Barat: +/- 20 cm.

6. Pkl 05.43 WIB, banjir di Kampung Bali, RT 09/RW 04, Kel. Kalideres, Jakarta Barat: +/- 20-40 cm.

7. Pkl 04.03 WIB, banjir di Perumahan Citra Blok D, Cengkareng, Jakarta Barat: +/- 20 cm.

8. Pkl 04.36 WIB, banjir di Jalan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat: +/-20 cm.

9. Pkl 05.02 WIB, banjir di Area RSUD Cengkareng, Jalan Kamal Raya, Cengkareng, Jakarta Barat: +/- 30 cm.

10. Pkl 05.27 WIB, banjir di Jalan Bojong Raya, Rawa Buaya, Jakarta Barat: 20 cm.

11. Pkl 05.48 WIB, banjir di Pertigaan Menceng, menuju Tegal Alur, Cengkareng, Jakarta Barat: +/- 30-50 cm.

12. Pkl 06.03 WIB, genangan di lajur 3 sepanjang 100 M di KM 03.400 Tol Janger arah ke Tomang: +/- 20-30 cm.

13. Pkl 06.08 WIB, genangan di lajur kanan sekitar 150 M dari exit pintu Tol Kedoya: +/- 20 cm.

14. Pkl 04.30 WIB, banjir Duri Kosambi, RT 006 s/d RT 10/RW 05, Cengkareng, Jakarta Barat: +/- 50 cm. Ada pengungsi berjumlah; 35 KK, 103 Jiwa, Posko Pengungsian di RT 04/RW 04 Masjid Baitul Khoir, Kel Duri Kosambi.

15. Pkl 06.25 WIB, banjir di Jalan Srengseng, (depan SDN 05).

Disisi lain, Pengamat Perkotaan dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga menilai bahwa persoalan dalam menangani banjir di Jakarta bukan suatu perkara mudah. Dalam menangani persoalan itu, menurut dia, perlu melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah sekitar daerah penyangga, dan instansi-instansi terkait.

"Harus radikal dalam menangani banjir. Harus ditangani secara formal dan melibatkan pemerintah pusat serta pemerintah daerah penyangga," imbuh Nirwono saat dihubungi di Jakarta, Minggu (28/2).

Dia berpendapat setiap kepemimpinan (Gubernur) memiliki cara yang berbeda dalam menangani banjir. Menurut Nirwono, penyelesaian soal banjir akan lebih baik dengan membuat situ dan memperbaiki waduk.

"Dulu zaman Pak Fauzi (Bowo) penanganannya relatif lebih cepat karena titiknya juga banyak. Sekarang agak lambat saya lihat," urainya.

Selain itu, menurutnya, tata ruang di Jakarta harus dibenahi dengan memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH). Serta, lanjut dia, menormalisasi sungai dengan melakukan pelebaran-pelebaran.

"Termasuk revitalisasi 14 situ, dan memperbaiki 42 waduk. Selain itu, merevitalisasi saluran serta setiap drainase harus terhubung dengan baik," tukas Nirwono.

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top