Rizal Ramli: Pertumbuhan Ekonomi 5,1 Persen Cuma Angin Sorga

Rizal Ramli

       

Jakarta, Terbitnews - Tahun ini pemerintahan Joko Widodo menargetkan pertumbuhan ekonomi pulih hinggani tumbuh 5,5 persen dinilai ekonom senior Rizal Ramli hanya angin surga semata. Pasalnya, sebelum masa pandemi virus corona baru (Covid-19) hanya 5.1 persen.
 
"Itu cuma angin sorga. Tahun ini tidak mungkin ekonomi Indonesia pulih sampai 5,5 persen. Kok bisa covid masih naik masih meningkat udah janjiin angin sorga 5,5 persen," kata Rizal Ramli di kanal youtube UI Watch.
 
Mantan Menko Kemaritiman ini mengatakan, krisis saat ini jauh lebih berat jika dibandingkan saat tahun 1998.
 
Kala itu, dijelaskan Menteri Ekuin era pemerintahan Gus Dur ini, masyarakat di luar jawa justru senang saat krisis karena saat rupiah anjlok menjadi Rp 15 ribu, para petani kopra, sawit dan cokelat langsung mendapatkan berkah.
 
Saat ini kondisinya berbeda, RR menjelaskan bahwa tidak ada lagi ekses kapasitas dibidang komoditi luar Jawa.
 
"Sehingga, ya kan kondisinya akan jauh lebih parah daripada tahun 98. Rupiah anjlok dari Rp 2.500 per dolar menjadi Rp 15 ribu. Jadi petani kopra, petani sawit, petani cokelat tiba-tiba jadi sangat kaya raya di luar Jawa," demikian analisa mantan Kepala Bulog itu.
 
Utang Membengkak
 
Kesalahan berikut, di era Jokowi utang negara membengkak luar biasa. RR mencatat, selama 6 tahun pemerintahan Jokowi setiap tahunnya tanggungan utang selalu bertambah.
 
Imbasnya, untuk membayar bunga utang saja menyentuh di angka Rp 345 triliun.
 
"Selama 6 tahun itu, terjadi apa yang disebut sebagai primary balancenya negatif. Artinya neraca primer negatif.untuk bayar bunga misal tahun ini Rp 345 T bunganya doang itu harus minjam lagi ," demikian uraian RR.
 
RR menjelaskan bahwa untuk membayar utang pemerintah harus menyedot uang. Teknisnya, dengan menerbitkan surat Utang negara (SUN).
 
"SUN ini bunganya 2 persen lebih tinggi dari deposito dan dijamin 100 persen. Jadi di Bank yang dijamin hanya Rp 2 miliar per nasabah. Kalau di SUN berapa triliun aja dijamin," demikian analisa RR.
 
Akibat dari penerbitan SUN, jelas RR uang di masyarakat yang ada di Lembaga Keuangan seperti BANK dari orang kaya disedot ke SUN.
 
"Itulah yang menjadikan kenapa bulan September dan Oktober tahun lalu pertambahan kredit itu negatif 1 persen ya. Ini belum pernah terjadi sejak tahun 98. Bahasa sederhananya, uang yang beredar aja disedot, kok ngarepin ekonomi pulih," tambah RR.
 
Kesalahan keempat, RR menjelaskan bahwa selama pandemi Covid-19, tidak ada prioritas dalam kebijakan Jokowi.
 
Padahal harusnya, saat muncul pandemi-19, pemerintah menggelontorkan Rp 400 triliun untuk pencegahan, vaksin dan lainnya. Sejak awal dia RR juga telah menyarankan, ada alokasi anggaran Rp 400 triliun untuk memberi makan seluruh rakyat Indonesia.
 
Dia juga mengusulkan pemerintah, mengalokasikan dana Rp 200 triliun untuk meningkatkan produksi pangan.  
 
"Tidak ada fokus, tidak kreativitas, jangan mimpi ekonomi bisa pulih dengan kepemimpinan seperti ini. Tetap aja ada proyek bangun ini, proyek bangun itu," demikian penjelasan Mantan Menko Kemaritiman ini.
 
RR kemudian menyebutkan kesalahan terakhir dari Jokowi adalah tidak membaca peluang krisis sebagai ruang untuk membangun negara. 
 
Dalam situasi krisis, RR meyakini kepemimpinan seseorang diuji. Ia mencontohkan beberapa pemimpin negara seperti Franklin Roosevelt dan Mahathir Muhammad.
 
"Ujian kepemimpinan justru pada waktu krisis, kelihatan siapa yang hebat siapa yang bagus, siapa yang memble. Pemimpin yang bisa membalikkan situasi krisis jadi opoturnity," papar RR.

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top