ProDEM: Saatnya Rizal Ramli Pimpin Indonesia yang Mandiri

RizalRamli

Ekonom senior Rizal Ramli

       

Jakarta, TerbitNews- Kondisi perekonomian Indonesia saat ini lagi carut-marut. Di tengah pandemi Covid-19, laju nilai tukar rupiah pun terus anjlok dalam beberapa pekan terakhir. Kemarin, nilai rupiah telah menembus angka Rp 16.000 per dolar AS.
 
Utang Indonesia juga kian membengkak. Tercatat per Februari 2020, utang Indonesia sebesar Rp 4.948,18 triliun.
 
Di satu sisi, kerja tim ekonomi sepertinya tidak berdampak bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Mereka hanya bisa menyalahkan faktor eksternal, seperti perang dagang Amerika Serikat dan China dan dampak virus corona sebagai alasan ekonomi lesu saat ini.
 
Sementara itu dari sisi internal, pemerintahan Jokowi tidak melakukan terobosan yang berarti. Laju ekonomi yang berada di angka 4 persen pada penghujung tahun 2019 diprediksi akan semakin terus turun di tahun ini.
 
Mempertimbangkan berbagai hal di atas, banyak kalangan mendesak Presiden Jokowi agar segera melakukan perombakan kabinet, terutama tim ekonomi.
 
Indonesia saat ini membutuhkan tim ekonomi yang mampu membangkitkan negara ini dengan segala terobosan yang dimilikinya.
 
“Bang Rizal Ramli dengan segala hormat. Saatnya abang pimpin Indonesia yang mandiri. Pimpin kami Bang!” ujar aktivis dari Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Adamsyah Wahab seperti dikutip RMOnline, di Jakarta, Jumat (20/3).
 
Bahkan, katanya, menteri pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), itu bukan lagi sekelas Menko Perekonomian, namun sudah saatnya memimpin Indonesia. Adamsyah mengatakan, kelas ekonom senior itu bukan lagi Menteri Keuangan atau Menteri Perekonomian, namun sudah layak jadi pemimpin di negeri ini.
 
Pasalnya, katanya, kepemimpinan Rizal Ramli pernah teruji saat mengatasi krisis yang terjadi di masa transisi. Di era Gus Dur, jurus Rizal Ramli terbukti ampuh membangkitkan ekonomi dari yang sebelumnya minus 3 persen menjadi 4,5 persen, atau terdongkrak 7 persen.
 
Rizal Ramli juga berhasil memberi catatan baik di era Gus Dur dengan menurunkan angka kemiskinan hingga 5,5 persen.
 
Khusus untuk masalah utang, Rizal Ramli punya terobosan yang jitu kala itu, yaitu dengan melakukan barter. Tepatnya saat utang ke pemerintah Jerman dibarter dengan ratusan ribu hektar lahan untuk konservasi di Kalimantan. Sementara utang ke Kuwait dipotong bunga mahal dengan bunga murah. Tak heran jika utang Indonesia kala itu turun hingga 4,5 miliar dolar AS.
 
Rizal Ramli lahir di Kota Padang dari ayah Asisten Wedana, sekarang Camat, dan ibu seorang guru. Namun sejak usia 8 tahun, Rizal kecil diasuh neneknya di Bogor hingga SMA. Lalu dia masuk ITB pada tahun 1973, dan kemudian menjadi aktivis yang membuatnya harus mengenyam kehidupan di penjara selama satu tahun. Selepas bekerja selama 1 tahun di BRI, Rizal kemudian melanjutkan studi di Boston University hingga meraih gelar doktor ekonomi pada 1990. 
 

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top