Rizal Ramli: Pertumbuhan Ekonomi Hanya 5%, Pemerintah Gak Usah Kerja Bisa

Rizal Ramli

       

Jakarta, Terbitnews - Ekonom senior Rizal Ramli mengapresiasi pernyataan calon presiden Prabowo Subianto di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Minggu (7/4), yang mengkritik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) hanya mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi 5%.
 
“Kalau hanya 5% Pemerintah enggak kerja pun bisa, karena dari konsumsi pun sudah lumayan. Seharusnya pemerintah harus ganti strategi,” ujar Rizal, seperti dilansir Fajar Indonesia Network (FIN), Senin (8/4),
 
Menurut Rizal Ramli, Kebijakan makro ekonomi pemerintahan Jokowi yang dinilai super konservatif menjadi penjelasan kenapa defisit Devisi CAR (Capital Adequacy Ratio) besar dan defisit perdagangannya cukup besar.
 
“Cara pemerintahan Jokowi tidak canggih, negara lain begitu ekonomi melambat mereka keluarkan Counter Cyclical Makro Economi Policy, di pompa dikasih stimulus supaya pulih lebih cepat,” kata Rizal.
 
Kenapa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak meningkat, kata Rizal Ramli, salah satunya pemeirntah terlalu mengikuti saran dari bank dunia, yang berpedoman kalau ekonomi melambat, maka yang dilakukan adalah kejar pajak potong anggaran-anggaran.
 
Rizal menerangkan, tantangan global ekonomi sebenarnya bukan perkara yang sulit, karena beberapa negara berkembang yang juga terdampak dari tantangan global tersebut bisa survive bahkan ekonominya menembus 7% lebih.
 
“Kalo tantangan global kenapa India bisa tumbuh 7%, Vietnam 7,5% Kok. Negara yang defict Current account cuma Indonesia sama Filipina, yang lainnya positif. Kalau betul karena faktor global, seluruh Asia Tenggara deficit CAD dong, harusnya (berdampak),” kata Rizal.
 
Tak hanya itu, Rizal menuturkan ada empat kebijakan makro ekonomi yang ngawur pada pemerintah saat ini.
 
Pertama, yield/kupon surat utang tertinggi di kawasan Asia Tenggara akan mencekik Indonesia di masa mendatang.
 
Kedua, tax ratio terendah di kawasan Asia Tenggara Tenggara menghambat tercapainya pertumbuhan tinggi di masa mendatang.
 
Ketiga, defisit transaksi berjalan terbesar di kawasan Asia Tenggara membuat risiko makro ekonomi Indonesia paling rentan di Kawasan.
 
Terakhir, Net International Investment Position (NIIP) paling negatif di kawasan Asia Tenggara membuat Indonesia paling tekor.
 
NIIP sendiri adalah selisih dari aset finansial dikurangi liabilitas (kewajiban) finansial suatu negara terhadap negara-negara lain di dunia. Negara dengan NIIP surplus/positif artinya adalah negara tersebut memiliki pengelolaan keuangan dan investasi yang menguntungkan, sebaliknya bila NIIP defisit/negatif dapat dikatakan negara tersebut merugi atau tekor.
 
“Seperti dapat diduga, NIIP Indonesia adalah yang paling negatif, defisitnya terbesar, di kawasan, yaitu sebesar 297 miliar dolar AS. Kemudian disusul oleh Filipina 34 miliar dolar AS, Thailand 24 miliar dolar AS, Malaysia 18 miliar dolar AS, Myanmar 18 miliar dolar AS, Kamboja 15 miliar dolar AS, (yang mengagetkan) Timor Leste surplus 17,5 miliar dolar AS, dan (yang tidak mengagetkan) Singapura surplus 836 miliar dola AS,” pungkas Rizal Ramli.

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so' - /opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0