Sultan Tidore: Kalau ada 10 Rizal Ramli di Kabinet Jokowi, Kemakmuran dan Kemajuan Indonesia Bukanlah Mimpi

Rizal Ramli

Rizal Ramli

       

Maluku - Rizal Ramli adalah harapan kami, rakyat Maluku. Kalau ada Rizal Ramli, ada sepuluh Rizal Ramli di pemerintahan Jokowi, maka pemerintahan Jokowi bakal berhasil memajukan dan memakmurkan Indonesia. Keinginan untuk maju itu bukanlah mimpi kalau ada sepuluh Rizal Ramli di Kabinet Jokowi. Demikian pendapat Sultan Tidore Husain Syah dari Maluku Utara, Jumat (/1/12).

“Beliau (mantan Menko RR) orang Indonesia asli, cinta dan mau Indonesia maju. Oleh itu datang dan lihat kami yang ada di belahan timur Indonesia. Kedatangan beliau akan memberi spirit bagi anak bangsa yang ada di Tidore. Kehadiran RR kami harapkan, dengan apa yang kami punya akan kami sambut kami berikan penghargaan serta penghormatan yang selayaknya,” tandas dia

Sebagai kilas balik berita, mendengar Maluku Utara, yakni Morotai menjadi salah satu dari 10 destinasi unggulan pariwisata yang dicanangkan Rizal Ramli sewaktu jadi menko kemaritiman, Sultan Tidore Husain Syah pun menyampaikan apresiasi. Program ini merupakan salah satu program unggulan Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya  era  Rizal Ramli.

“Selaku putra daerah dan pemangku adat di Tidore, kami sangat bahagia. Kami menyambut baik serta membuka diri akan program tersebut,” ungkap Sultan Tidore Husain Syah.

Mantan Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli  menjadi pembicara dalam seminar nasional di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) di Kota Ternate, Sabtu (2/12).

Di seminar itu, Rizal Ramli akan membahas persoalan Tata Kelola Kemaritiman dan Perbatasan, antara Peluang dan Tantangan sebagaimana tema seminar. Rizal Ramli juga dijadwalkan bersilaturrahim dengan Gubernur Maluku Utara, Abdul Ghani Kasuba.

Di hari yang sama, Rizal Ramli juga akan menjadi pemateri utama dalam peluncuran Pusat Studi Kemaritiman Maluku Utara (Puskam). Acara ini diselenggarakan oleh KNPI Maluku Utara dan Ternate, serta para akademisi dan aktivis setempat.

Esoknya (Minggu, 3/12), Rizal Ramli dijadwalkan bertemu dan diskusi dengan Sultan Tidore di Kedaton Tidore. Setelah acara itu, ekonom senior ini melakukan perjalanan ke Galela, Halmahera Utara menggunakan speed boat selama hampir empat jam.

Di hari Senin (4/12), Rizal Ramli menjadi pembicara dalam seminar bersama masyarakat dan Pemkab halmahera Utara. Acara itu bertema: Kearifan Lokal Masyarakat Maritim dan berlangsung di gedung Pertemuan Galela.

Rizal juga dijadwalkan mengunjungi festival Tanjung Bongo bersama stakeholder setempat. Ada bupati dan wakilnya, serta Ketua DPRD Halmahera Utara.

Husain Syah pun menunggu kehadiran Rizal Ramli di Tidore, Maluku Utara. Ini dilakukan agar Menko Rizal tahu bahwa ada sisi lain Indonesia yang bagitu cantik.

Husain kemudian menceritakan nama dari Maluku Kie Raha, yang dahulu dikenal. “Kie” artinya Kesultanan atau Negara. sedangkan “Raha” sendiri berarti Empat. Jadi, Maluku Kie Raha artinya Maluku terdiri dari empat kerajaan besar yaitu, Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan.

“Kalau melihat sejarah, kita jauh lebih tua dari republik ini. Jadi, bisa dikatakan orang Maluku Utara sekolah atau tidak sekolah sudah tahu cara mengelelola pemerintahaan. Karena itu sudah gen (keturunan/turun temurun). Dan, ini merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan,” jelasnya.

Rizal Ramli sering menekankan: Hidup harus memiliki ‘Sense of Mission’, jangan cuma numpang lewat doang. Sebab, kalau memiliki itu, manusia akan termotivasi, menggaet dan membawa kita untuk berbuat sesuatu secara optimis

Ketika menjadi  Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli menyampaikan hal itu ketika menjadi narasumber di hadapan 126 mahasiswa penerima beasiswa pendidikan Indonesia yang akan meneruskan studi ke luar dan dalam negeri di Wisma Hijau Mekar Sari Depok..

Mantan Menko Kemaritiman Rizal  Ramli yang dikenal dengan jurus Rajawali Ngepret ini kemudian menceritakan pengalaman hidupnya. Saat dia menjadi Wakil Ketua Umum Dewan Mahasiswa ITB, sempat melakukan perjalanan sepanjang Pantai Utara Jawa sampai Bali. Si situ, ia menjumpai tujuh juta anak usia sekolah tidak bisa sekolah lantaran tidak ada biaya.
“Kemudian kami berfikir bagaimana caranya supaya anak-anak tersebut bisa sekolah,” ujar Rizal lagi.

“Akhirnya saya buat gerakan anti kebodohan dan fokus memperjuangkan adanya undang-undang wajib belajar di Indonesia demi tujuh juta anak yang tidak bisa sekolah ini,” kenangnya.

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top