Budaya Agraris dan Maritim Akar Pijak Ketahanan dan Pertahanan Nasional Kita

HUT RI

       

Kalau saja masyarakat urban di perkotaan -- yang dominan kaum buruh di kawasan industri  -- mau pulang ke kampung halaman atau balik ke desa menekuni profesi petani atau nelayan,  bisalah dipastikan kerumitan hidup di perkotaan -- utamanya Metropolitan Jakarta -- tidak akan serunyam sekarang. Tapi masakahnya kampung dan desa kita justru nasibnya seperti anak tiri yang disia-siakan, setidaknya dalam perlakuan pembangunan yang dilaksakan pemerintah Indonesia sejak awal proklanasi sampai hari ini.

Kebijakan pembangunan untuk daerah yang telah dicanangkan prioritasnya  oleh pemerintah yang telah sesumbar sejak Orde Baru berkuasa misalnya, toh tidak ada juga mampu menahan arus urbanisasi yang terus merangsek menyerbu kota.

Masalah di kampung atau desa bukan saja tidak cukup tersedia lapangan kerja, tetapi juga daya rangsang dan daya dukung pemerintah untuk menciptakan kemakmuran rakyat kampung atau penduduk di desa sungguh tidak memadai.

Bila saha lapangan pekerjaan di desa atau kampung halaman dari kebanyakan penduduk kota di Indonesia bisa benar-benar diwujudkan, keuntungan yang bisa kita dapat bukan saja dapat menghentikan arus urbanisasi, tetapi juga bisa diharap mengembalikan pertahanan budaya masyarakat petani dan ketahanan budaya masyarakat nelayan kita yang handal dan tangguh, tapi juga sekaligus bisa membangun pertahanan dan ketahanan pangan kita yang makmur dan genah ripah. Sehingga tidak perlun heboh pada setiap periode tertentu, semacam kondisi darurat garam dan cabe yang selalu heboh serta meresahkan seluruh rakyat Indonesia. Belum lagi masalah jagung dan beras sampai kebutuhan kacang kedele.

Kesan pembiaran dan ambigu pemerintah pada urbanisasi yang deras meninggalkan desa menuju kota, sampai hari belum ada kebijakan yang nyata, kecuali semangat melarang orang kota yang mudik saat merayakan lebaran atau hari libur lainnya di desa, agar saat kembali ke kota tidak  memboyong sanak dan familinya ke kota.

Larangan maupun cuma sekedar himbauan agar tidak berbondong-bondong ke kota jelas naib, kalau tidak bisa disandarkan pada pelsnggaran konstitusi kita --- UUD 1945 -- bebas dan merdeka untuk memperoleh pekerjaan, dimana pemerintah sendiri tidak mampu memberi pekerjaan seperti yang diamanatkan dalam janji kemerdekaan banga Indonesia, pada 17 Agustus 1945. (Baca Mukadimah UUD 1945)

Akibat perkerjaan tidak cukup tersedia dan tidak mempunyai daya rangsang yang bisa diberikan pemerintah, wajar saja anak-anak muda di desa lebih berhasrat mengadu basib di kota, meski pada umumnya terpaksa tersuruk di kawasan industri yang asing untuk dipahami oleh latar belajang budaya agraris atau maritim yang telah ditekuni secara turun temurun dari para leluhur kita itu.

Konsekuensi logisnta, bukan saja anak generasi bangsa agraris dan maritim kita jadi tersuruk dalam budaya industri yang lebih dekat dengan tradisi kapitalis, tetapi negeri ini telah kehilangan generasi pewaris sekaligus generasi penerus budaya leluhur kita dalam bercocok tanam, pertukangan membuat perahu maupun kapal penangkal ikan yang unik dan indah. Begitu juga keahlian menangkap ikan hingga ilmu pelayaran dan perbintangan dilangit untuk membaca kondisi laut serta cuaca yang tidak sekolahannya.

Itulah sebabnya banyak orang yang ngenes ketika melihat nasib kaum buruh kita yang terus dieksploitir dengan upah murah. Tidak kecuali pemerintah Indonesia sendiri justru mempromosikan dengan kesan membanggakan, tingkat nilai upah buruh kita yang murah kepada para investor untuk membuka usahanya di negeri kita.

Pertanyaan banyak orang pun sudah berulang kali diuji, mengapa berafam bentuk usaha pabrikan misalnya seperti pedawat terbang Nurtanio itu kok macet. Lalu bagaimana dengan Galangan PAL kita yang sempat dikatakan tidak mampu memenuhi keperluan bagi negara kita sendiri ?

Jadi sekedar ingin membayangkan adanya semangat membangun negeri ini dengan semangat bahari semakin jauh dan membuat kangen tidak bertepi. Pertanian kita bukan saja semakin tidak berdaya menadah hasil import, tetapi juga mulai dijarah bangsa asing. Bayangkan betapa luasnya hamparan kebun kelapa sawit di Sumatra dan Kalimantan, juga boleh dicacah seberapa yang masih menjadi mikik warga bangsa Indonesia. Sebab dominan banyak telah menjadi milik warga negara asing.

Inilah ironisnya pertahanan dan ketahaban budaya kita. Dampak negatifnya tidak cuma menerabas pertahanan dan ketahaban ekonomi kita semata, tetapi juga telah merontokkan pertahanan dan ketahanan budaya kita yang sesungguhnya merupakan akar pijak dari ketahanan nasional yang nyata.

Oleh: Jacob Ereste, Atlantika Institut Nusantara

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so' - /opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0