Menyedihkan, SMI Ibaratkan Utang dengan Kartu Kredit

Sri Mulyani Indarwati Utang Luar Negeri Kartu Kredit

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indarwati

       

TerbitNews —Lagi-lagi Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indarwati (SMI) membuat pernyataan yang menyakitkan dan menyedihkan. Dia mengibaratkan,  utang  dengan kartu kredit. Menurutnya, dalam mengajukan kartu kredit, maka sesuaikanlah limit maksimal dengan kemampuan membayar.
 
Pernyataan SMI itu disampaikannya saat tampil menjadi bintang tamu dalam program "Rosi" di Kompas TV, Kamis (10/8/2017) malam. 
 
Menurutnya, apabila pendapatan seseorang Rp 10 juta, maka mintalah kartu kredit yang limit maksimalnya Rp 1 juta. Kemudian, apabila pendapatan seseorang mencapai Rp 25 juta, maka limit maksimal yang seharusnya diajukan adalah Rp 5 juta.
 
"Itu tidak berarti bahwa Anda punya limit Rp 5 juta kemudian Anda bilang situasinya lebih buruk dari yang Rp 1 juta. Harus dilihat dari kemampuan dan size ekonomi keseluruhan," jelas Sri Mulyani.
 
Pernyataan SMI itu, menurut saya sangatlah tidak masuk akal, sekaligus bentuk kepanikannya karena gagal mengendalikan utang pemerintah, juga tak mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
 
Itu juga sebuah pernyataan yang menyedihkan. Masa bunga kartu kredit sangat tinggi (30%an) disamakan dengan bunga utang. Pantes SMI waktu zaman pemerintahan SBY terbitkan surat utang berbunga super mahal (1-2%,  diatas negara yang ratingnya lebih rendah dari Indonesia, yaitu Filipina, Thailand dan Vietnam), sehingga kebijakannya itu sangat merugikan Indonesia.  
 
Apalagi, kartu kredit untuk menengah bawah sangat beresiko tinggi. Kartu kredit memang high risk. SMI harus mengingat bahwa pemicu krisis Korea pada tahun 90-an. 
 
Aneh-aneh
 
Menurut saya, sebaiknya SMI tidak perlu membuat pernyataan yang aneh-aneh, karena bisa membuat gaduh di masyarakat, juga membuat dunia usaha resah. Lebih baik Sri Mulyani bekerja keras meningkatkan pertumbuhan diatas 5,5 persen. 
 
Lebih baik SMI mampu menangani utang dengan baik, misal dengan bunga rendah, dan melakukan berbagai terobosan dan inovasi agar kredit menghapuskan/memeutihkan utang pemerintah. Hal ini lebih baik dilakukan Sri Mulyani ketimbang menyampaikan pernyataan atau membuat kebijakan yang blunder. 
 
Dengan demikian publik tidak akan mengetahui bahwa saat ini Sri Mulyani sedang panik, bahkan terkesa putus asa karena ketidakmampuan membangun ekonomi Indonesia.
 
Lebih lanjut dalam program "Rosi" itu, SMI berkilas balik ke periode tahun 1997-1998 ketika ada pergantian dari era Orde Baru ke era Reformasi yang menghasilkan presiden-presiden yang dipilih langsung oleh rakyat.
 
Perubahan besar tersebut terjadi bersamaan dengan krisis ekonomi. Akibatnya, negara harus menanggung perbaikan sektor keuangan yang waktu itu tengah dilanda krisis.
 
SMI mengatakan, jumlah tambahan utangnya besar sekali hingga mencapai seratus persen dari produk domestik bruto (PDB). Dengan utang yang sebegitu besar, maka Indonesia nyaris tak bisa bernapas dengan leluasa.
 
Ini membuat presiden-presiden berikutnya memikirkan dan melakukan serangkaian upaya penghematan. "Membuat APBN sehat dulu supaya kita tidak mengalami krisis utang," jelas SMI. 
 

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so' - /opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0