JOKOWI AYO MOVE ON!

Presiden Jokowi

Cak Mad

       

Oleh: Cak Mad

Ini hari-hari yang berat bagi Jokowi sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan. Begitu beratnya sehingga apapun yang beliau lakukan mengandung tanya yang bernilai degradatif.

Dalam daftar Pilkada berbagai daerah yang didukungnya, khusus wilayah dengan populasi besar, semua nyaris kalah. Sumut, Jawa Barat dan terakhir Jakarta menjadi contoh semua itu. Akan halnya Jawa Tengah peran Jokowi terlihat tidak significant karena faktor ketokohan Ganjar Pranowo dan basis PDIP yang masiv.  Ironisnya di tiga wilayah yang kalah tersebut semuanya akibat fight dengan pemilih muslim yg dimotori PKS.

Jadi ada benarnya apa yang dikatakan Gubernur DKI nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama, sebagaimana yang viral di medsos, Jokowi naik karena pengembang. Dapat diartikan Jokowi bukan produk genuine yang diharapkan masyarakat selama ini, tapi hasil dari the other hand.
Dalam hal pembangunan, jargon Revolusi mental tidak berjalan, bukan karena konsep itu buruk tapi memang karena tidak memahami sama sekali konsep tersebut kecuali jargon: Kerja....Kerja...Kerja....!

Di bilangan pembangunan fisik, rangkaian pembangunan infrastruktur yang dibanggakannya khusus infrastruktur jalan raya sesungguhnya bukan konsep baru karena semua sudah terdesign sejak era Soeharto kemudian di sempurnakan oleh Pemerintah SBY.
 
Dan bahkan SBY menjadikan program pembangunan infrastruktur bukan sebagai agenda tapi menjadi Tahapan. Maka siapapun Presiden pengganti tinggal melaksanakan blue print yang sudah dibuat diera SBY. Suka atau tidak suka itulah kenyataannya. Tol Cipali misalnya adalah hamparan jalan tol terpanjang setelah Jakarta Cikampek, Jagorawi, Jakarta Merak, yang dibangun Soeharto.  

Pembangunan Tol Cipali yang memiliki kesulitan tinggi dalam mewujudkannya, menunjukan bagaimana SBY memang sungguh-sungguh membangun. Dalam hal ini peran Sandi Uno yang sekarang terpilih sebagai Wagub dalam merencanakan dan menyatukan 20 bank besar sebagai pendana patut diapresiasi.

Pun demikian pd proyek infrastrktur yang lain, Waduk Jatigedhe yang terbengkalai sejak pembebasan lahan dilaksanakan di era Orde baru, berhasil diwujudkan SBY, dan    Jokowi tinggal meresmikan diawal pemerintahannya.

Sebenarnya saya pada mulanya optimis Jokowi akan lebih sublimatf memimpin karena performancenya yang terlihat rendah hati dan cerdas walau terbungkus stylist-nya yang alami. Dikemudian hari saya berfikir ulang dengan persepsi saya itu setelah melihat rangkaian kinerja yang jauh dari ekspektasi.

Infrastruktur dan kehidupan politik sebagai variabel penting dalam pembanguan di negara demokrasi begitu berserakan, atmosfir politik begitu panas, tidak sedikit parpol saling berkelahi antar sesamanya bahkan ditingkat Ormaspun KNPI terpecah 3 tiga kepengurusan.

Kehidupan sosial keagaamaan tidak lebih baik dari nasib Parpol. Saling fitnah dan adu domba antar anak bangsa dan sebentar lagi menjadi tabiat kebudayaan yang destruktif jika tidak diselesaikan dengan cara yang tepat dan berkeadilan.

Catatan Buram

Di sektor ekonomi, negara semakin nyata masuk dalam jeratan rentenir internasional sementara uang pinjaman tidak jelas kemana larinya.  Satu demi satu BUMN tergadai pada rentenir internasional, dan para relawan pilpres yang berada didalamnya tidak terlihat kinerjanya. Banyak lagi dan banyak lagi untuk disebutkan catatan buram yang melingkupi kinerja Pemerintahan saat ini.

Tak ada kata terlambat buat Jokowi selagi punya niatan untuk memperbaiki nasib negara bangsa ini. Kita harus kembali pada persoalan yang mendasar sebagai prasyarat pembangunan, yaitu Stabilitas Politik.
Jika Soeharto menerapkan politik fusi atas beragam parpol yang ada saat itu demi stabilitas pembamgunan, dan SBY menerapkan politik harmoni untuk kestabilan atmosfir pembangunan, maka pertanyaannya adalah Dengan cara apa Jokowi mendapatkan kestabilan politik?

Tindakan represif selama ini sama sekali tidak menguntungkan dan bahkan semakin menjauhkan perjalanan Negara Bangsa dari pendulum cita-cita Proklamasi.

Jika saat ini sulit ditempuh, saran saya segera move on dengan kembali pada Pangkal yang sesungguhnya.  Menata Negara Bangsa ini dengan berlandaskan pada UUD 1945 tanggal 18.8.1945 junto 5.6.1959. Hanya itu cara satu-satunya menyatukan Bangsa ini sebelum semua terlambat.
Salam kebangsaan

*) Penulis, Direktur Pusat Kajian Informasi Strategi (PAKIS) Indonesia

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so' - /opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0