Ketidakadilan Perdagangan Produk Pertanian Dunia

PERTANIAN,INDONESIA,DUNIA,EKSPOR,IMPOR,KEBIJAKAN

MARULI GULTOM/IST

       

H.S. Dillon – yang selalu menyapa semua orang dengan “Excellency”, satu ketika memboyong saya ke kota kelahiran Shakespeare, Stratford-upon-Avon, Inggeris, untuk mengikuti pertemuan semesteran International Food & Agricultural Trade Policy Council (IPC) dimana H.S. Dillon duduk sebagai satu dari hanya tiga anggota dewan yang mewakili Asia. Saya diminta untuk berbicara mengenai aspek kelestarian lingkungan dalam memproduksi minyak kelapa sawit dan bahan bakar nabati (bio-diesel) di Indonesia.

Di kamar hotel tempat kami menginap saya terperangah menemukan teh celup ber-merk “English Tea” disediakan untuk dikonsumsi.

Saya memulai presentasi saya dengan melambai lambaikan teh celup itu sambil bertanya: “Di kamar hotel saya menemukan teh celup bermerk English Tea. Sejak kapan kalian menanam teh?”

Bangsa Inggris, maupun bangsa Eropa lainnya, tidak pernah menanam teh. Namun banyak perusahaan Eropa dan Amerika yang menjadi kaya raya karena teh.

Mereka juga tidak pernah menanam kopi, kakao, karet, dan berbagai komoditas pertanian lainnya. Namun mereka menjadi kaya raya dan menguasai perdagangan komoditas pertanian yang tidak pernah mereka tanam. Ke hotel manapun anda menginap di dunia ini anda hampir selalu akan menemukan kopi Nescafe tersedia di kamar anda. Swiss terkenal sebagai produsen cokelat terbaik di dunia. Ban mobil Michelin merajai pasar ban mobil dunia dan menjadi pilihan pembalap mobil formula. Teh ber merk Lypton menguasai pasar dunia, dan membanjiri super market di Indonesia, negeri penghasil daun teh itu sendiri.

Ketidak Adilan Perdagangan Dunia.

Kepada peserta seminar di Stratford-upon-Avon tersebut, yang juga dihadiri para eksekutif dari Nestle, Unilever, Procter & Gamble, dan berbagai perusahaan raksasa dunia pengguna produk pertanian sebagai bahan bakunya, saya mengatakan masalahnya bukanlah tidak setuju dengan kekayaan yang mampu mereka raup dari bisnis berbasis agri product tersebut. Yang saya permasalahkan adalah KETIDAK ADILAN yang terjadi dalam perdagangan produk pertanian itu.

Harga produk-jadi yang mereka pasarkan sangat jauh di atas harga yang mereka berikan kepada produsen bahan bakunya. Harga teh celup ber merk yang dijual di super market bisa mencapai 40 hingga 80 kali harga daun teh yang diterima petani teh. Demikian pula dengan Cadbury Chocolate, ban Micheline, ataupun kopi Nescafe dan Starbuck Coffee.

“Saya tidak keberatan anda menjadi kaya raya karena kopi, teh, atau cokelat dari Indonesia dan negara berkembang lainnya. Tapi saya sangat menyarankan anda pergi ke perkebunan kakao di Sulawesi. Anda akan resah melihat kemiskinan petani yang menanam kakao karena anda membayar hasil panen mereka sangat murah, yang membuat anda kaya raya. Pergilah ke perkebunan teh di Jawa Barat, dan anda akan merasa berdosa menyaksikan betapa keluarga keluarga pemetik daun teh  hidup dalam kemiskinan absolut karena anda membayar daun teh teramat rendah.”

Kelaparan di Lumbung Padi.

Produk negeri kita yang berupa hasil langsung dari alam seperti bahan tambang atau ikan laut, maupun hasil memeras keringat petani kita seperti teh, kakao, kopi, karet dll., mengalir ke luar negeri dan telah membuat  bangsa lain menjadi kaya sementara kita tetap miskin. Kita menjadi tikus bodoh yang “kelaparan di lumbung padi”.

Minyak bumi di Riau akan habis dalam beberapa tahun lagi. Perusahaan minyak raksasa Chevron telah menjadi luar biasa kaya sementara separuh penduduk Riau berada di bawah garis kemiskinan. Kalau dihitung jumlah dollar yang dihasilkan dari minyak bumi Riau dan seluruhnya dibagikan kepada rakyat Riau, tak pelak lagi orang Riau adalah orang orang kaya sedunia. Siapa yang bisa mengimbangi kekayaan orang Papua bila semua hasil PT Freeport dibagikan untuk mereka ? Atau penduduk Kalimantan yang batu baranya dikuras dan hutannya ditebang habis meninggalkan tanah gersang dan kemiskinan yang tak bergeming. Kenyataannya rakyat Kalimantan dan Papua tetap hidup dalam kemiskinan absolut, bahkan terbelenggu dalam kehidupan primitif.

Nilai Tambah.

Bila kita kaji lebih jauh, mengapa perusahaan seperti Nestle, Unilever, P &G, Lypton, Cadbury, yang nota bene adalah pembeli produk pertanian kita bisa menjadi raksasa dunia yang kaya raya sementara kita yang adalah produsen CPO terbesar dunia, produsen karet alam terbesar ke 2, produsen terbesar kakao dunia, produsen daun teh terbesar kesekian, tetap saja terpuruk dan miskin?

Produksi karet, kakao, kopi, teh, minyak kelapa sawit, hampir seluruhnya diekspor sebagai bahan mentah. Bahan mentah tersebut diolah di luar negeri menjadi produk akhir bermerk (branded product) kemudian dipasarkan ke seluruh dunia dengan harga berpuluh kali lipat. Pemegang merk menikmati nilai tambah yang luar biasa berkat teknologi serta merk mereka yang menguasai pasar dunia.

Pemerintah dan pengamat ekonomi mencerca pengusaha kita yang hanya mengekspor barang mentah. Padahal pemerintah sendiripun melakukan yang sama. Minyak mentah kita diekspor keluar negeri dan kita mengimpor bahan bakar minyak (BBM). Sengaja atau tidak, kita tidak memiliki fasilitas yang cukup untuk meyuling sendiri kebutuhan BBM kita.

Hulu, Keunggulan Komparatif.

Salahkah kita bila bertahan di hulu sebagai pemasok bahan mentah industri dunia ?

Jawabannya: tidak. Yang salah adalah ketika keunggulan komparatif kita sebagai pemasok utama bahan baku tersebut tidak dapat kita manfaatkan menjadi keunggulan kompetitif. Sebagai pemasok terbesar mestinya kitalah yang menentukan harga produk hulu kita dan mendapatkan keuntungan yang seimbang dengan produk hilir. Negara negara penghasil minyak bumi melakukannya dengan cerdik. Mereka berkumpul dan bersepakat untuk mengurangi produksi. Pasarpun langsung bereaksi. Harga minyak bumi serta merta membubung tanpa OPEC perlu menentukan harga.

Anda bisa membayangkan apa yang terjadi di industri hilir dunia bila kita mengurangi suplai karet, kakao, minyak sawit, teh, rotan, dan semua produk hulu dimana kita menjadi pemasok utama dunia. Nestle, Cadbury, Lypton, Unilever, Michelin, Dunlop, tidak akan membiarkan bisnisnya yang milyaran dolar melorot karena kekurangan bahan baku. Kelangkaan pasokan akan berdampak pada kenaikan harga bahan baku. Petani kita akan diuntungkan oleh harga produk pertanian yang membaik dan penerimaan pajak negarapun turut meningkat.

“Sebagai pemasok utama dunia, kita berhak menuntut harga yang adil untuk produk pertanian kita.”

Pemerintah haruslah dengan cerdik mengambil langkah nyata, bukan retorika, ke arah itu.

 

MARULI GULTOM, PRAKTISI & PENGAMAT EKONOMI

 

 

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so' - /opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0