BPJS Watch: Investigasi Bocah Meninggal Ditolak Rumah Sakit

rizky,muhammad,pasien,rumah,sakit,bpjs,ditolak

Almarhum Rizky/Ist

       

HARIAN RAKYAT, JAKARTA - Bocah Muhammad Rizky Akbar akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya lantaran tak satupun Rumah Sakit (RS) yang bersedia merawat anak berusia 2,9 tahun itu. Sebelumnya, Akbar dibawa pertama kali oleh ibunya, Yuli Supriati ke Puskesmas di daerah Bonang, Kabupaten Tangerang. Ia selanjutnya dirujuk ke enam RS di Tangerang dan Jakarta, termasuk RS Jantung Harapan Kita. Sayangnya, pasien BPJS tersebut ditolak pihak RS dengan berbagai macam alasan.

Tak mau patah arang, ibunda Akbar pun membawa puteranya ke RS Eka Hospital, BSD City, Tangerang Selatan, meski harus membayar puluhan juta rupiah sebagai uang muka perawatan. Malang, nyawa Rizky tak lagi tertolong, hingga sang ibunda mengunggah foto Rizky ke Facebook pada Sabtu (27/8/2016), dengan kondisi tidak lagi bernyawa.

Menanggapi kabar duka ini, BPJS Watch mengaku tak habis pikir kenapa pihak RS maupun BPJS masih belum mampu memberikan pelayanan kepada pasien. Kejadian yang menimpa Rizky diketahui bukan yang pertama terjadi. “BPJS Watch menilai kejadian ini sebagai bentuk kelalaian riil RS tersebut dan BPJS Kesehatan. Hak pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik ternyata tidak diberikan RS dan BPJS Kesehatan,” tegas Timboel Siregar, Koordinator Advokasi BPJS Watch dalam siaran persnya, Rabu (31/8).

Untuk itu, BPJS Watch mendorong agar Kementerian Kesehatan segera menginvestigasi RS yang menangani pasien. Hal ini penting dilakukan karena ada indikasi kuat bahwa RS telah melakukan pembiaran terhadap Rizky. “Kemenkes harus berani memberikan sanksi pada RS. Pasalnya, RS Harapan Kita sebagai RS Pemerintah memiliki fasilitas kesehatan dan dokter spesialis yang mumpuni ternyata tidak memberikan pelayanan maksimal. Ini harus diinvestigasi lebih khusus oleh Kemenkes.”

Selain pihak RS, BPJS Watch juga menuntut BPJS Kesehatan ikut bertanggungjawab. Alasannya, karena keluarga pasien peserta JKN ini mencari RS yang mau dan bisa menangani si anak tanpa mendapatkan bantuan dari BPJS hingga akhirnya si anak dibawa ke RS Eka Hospital yang tidak bekerja sama dengan BPJS kesehatan dan harus membayar secara pribadi. Ini kelalaian nyata BPJS Kesehatan untuk membantu pasien JKN dalam mencari RS yang bersedia merawat si anak,” papar Timboel lebih jauh.

Untuk keluarga pasien, Timboel melanjutkan, BPJS Watch mendorong agar keluarga pasien mau menggunakan Pasal 48-50 UU No. 24 tahun 2011 tentang BPJS yaitu dengan menempuh jalur sengketa terhadap BPJS Kesehatan melalui pengadilan. Upaya ini sangat penting untuk mengingatkan BPJS Kesehatan agar bekerja serius membantu pasien JKN. “Kami turut berbelasungkawa dan semoga kasus ini tidak terjadi lagi,” tukas Timboel.
 

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top