Habis Reshuffle, Terbitlah Evaluasi Smelter

herry,tousa,smelter,nikel,asosiasi,indonesia,esdm,archandra,tahar

Herry Tousa

       

JAKARTA, HARIAN RAKYAT- Reshuffle Kabinet Jilid II yang baru saja ditempuh Presiden Jokowi harus diakui mendapat respons positif dari kalangan pelaku usaha. Sesuai harapan Presiden, perombakan kabinet kali ini niscaya akan terus memacu kinerja pemerintahan melalui pembangunan ekonomi yang lebih kokoh. Dengan masuknya tiga menteri di sektor yang berkaitan dengan energi yakni Menteri ESDM, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan turut membawa harapan baru bagi pelaku industri khususnya mineral dan batubara (minerba).

Seperti diketahui, sejak pemberlakuan UU Minerba pada 2014 lalu, gairah industri pertambangan Tanah Air mengalami kelesuan. Ekspor bahan mentah dilarang dan diwajibkan diolah terlebih dahulu di dalam negeri. Seluruh pengusaha pertambangan pun mau tidak mau harus membangun smelter. Awalnya, kebijakan ini dianggap sangat heroik dengan dalil tidak lagi menjual bahan mentah ke luar negeri dengan harga relatif murah. Ada rasa nasionalisme yang menggelora di dalamnya.

Namun, membangun smelter ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan investasi sangat besar dan waktu cukup lama untuk membangun smelter. Di sinilah persoalan perlahan mengemuka. Tidak semua perusahaan pemilik tambang yang mampu membangun smelter. Alhasil, hanya perusahaan pemilik tambang berskala besar dan tentu saja mempunyai banyak modal, yang tidak menemui kendala bila ingin membangun smelter. Sedangkan bagi perusahaan kecil, membangun smelter adalah sebuah malapetaka.

Kenapa malapetaka? Sebab, perusahaan tambang kecil yang dilarang mengekspor bahan mentah tidak lagi punya pilihan kecuali menjual bahan mentah miliknya kepada perusahaan besar pemilik smelter. Di saat yang sama, perusahaan berskala besar yang tentu saja sudah dan mampu membangun smelter justru mengambil kesempatan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Pengumpulan pundi-pundi perusahaan raksasa itu pun dilakukan dengan cara yang kurang elegan.

Faktanya, terdapat beberapa perusahaan besar pemilik smelter yang dengan seenaknya saja menentukan harga beli bahan mentah. Jangan heran apabila pemilik Kuasa Pertambangan kecil hanya mampu memperoleh untung 1-2 dolar saja. Perlakuan seperti itu banyak dialami pengusaha nikel saat ini. Juga perlu diingat, perusahaan pemilik smelter saat ini sekitar 90 persen dikuasai asing. Artinya, jika dulu dikatakan smelter dibutuhkan agar tidak lagi menjual tanah-air, sekarang kita sudah menjual negara.

Buktinya, perusahaan pemilik smelter hanya menerima ore nikel dengan grade 1.95. Padahal, di setiap wilayah tambang, grade 1.95 paling banyak berkisar 5-7 persen. Lalu kemana lagi sisanya? Mau tidak mau tentu saja harus dijual kepada pemilik smelter dengan harga yang jauh lebih murah. Perlakuan seperti itu tentu saja lebih dzalim dari era penjajahan. Coba bandingkan dengan pasar di Tiongkok yang masih menerima grade 1.7 hingga 1.5 dan dibeli dengan harga yang cukup memadai. Sederhananya, di Indonesia, dibeli 20 dolar sementara di Tiongkok laku dijual 60 dolar. Maka yang diuntungkan, sekali lagi, adalah perusahaan pemilik smelter yang hampir seratus persen dikuasai modal asing.

Tentu saja masih ada harapan agar peristiwa menyedihkan itu tidak lagi berlanjut. Yakni, dengan melakukan standarisasi harga yang diatur oleh pemerintah. Kementerian ESDM, Perindustrian, dan Perdagangan harus memberikan pilihan kepada pelaku tambang kecil. Ini yang harus jadi pemikiran bagi pemerintah. Dibutuhkan terobosan melalui pemberlakuan standarisasi harga bahan tambang guna mencegah praktek curang perusahaan berskala besar. Tentu saja, membuat terobosan seperti itu bukanlah persoalan sulit. Dengan catatan, Menteri ESDM, Menteri Perindustrian, serta Menteri Perdagangan mau duduk bersama untuk merumuskan dasar hukumnya, yakni dengan menerbitkan Peraturan Menteri.


Herry Tousa
Dewan Penasehat Asosiasi Nikel Indonesia

       

Populer Berita Minggu Ini :

www.terbitnews.com

To Top

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so' - /opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0